Jumat, 06 September 2013

BELAJAR MEMBUAT BIOGRAFI= Cara Menulis Biografi

by : http://www.gaulislam.com/mari-menulis-biografi

Menulis biografi seperti kita menceritakan tentang riwayat hidup. Bisa diri sendiri (otobiografi), bisa juga kita menuliskan untuk orang lain. Jadi penulis biografi nggak sulit kok. Ini hanya semacam komoditi dari menulis, seperti halnya puisi, cerpen, novel, atau juga artikel.

Semua itu hanya jenis komoditi yang bisa kita jual kepada pembaca. Meski hampir sama dalam teknik dasar penulisannya, saya akan memberikan tip khusus yang berkaitan dengan menulis biografi (termasuk di dalamnya otobiografi). Karena biografi memuat semacam kisah hidup seseorang, maka tentunya bahan yang digunakan semuanya berasal dari ucapan, pikiran, dan tindakan orang tersebut. Boleh dibilang biografi ini memawakili siapa sosok yang ditulis tersebut. Kita bisa mengenal lebih dekat tokoh yang ditulis biografinya. Apalagi orang tersebut adalah orbek macam Ir. Soekarno, Mohammad Hatta dan kawan-kawannya. Tokoh Islam lainnya juga bisa kita buat seperti kisah hidup Abu Bakkar as-Shiddiq, Umar bin Khaththab, Usma bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Umar bin Abdul Aziz dan seterusnya. Ada banyak. Mungkin puluhan ribu tokoh Islam yag bisa ditulis kembali biografinya.

http://wheelhousetk.com/wp-content/uploads/2011/12/pen1-390x390.jpg
Jaman sekarang juga boleh kalo mau bikin biografi. Nggak ada yang larang kok. Ramadhan KH, bapaknya Gilang Ramadhan yang drumer itu, adalah spesialis penulis biografi. Banyak orang beken di negeri ini yang mempercayakan otobiografinya ditulis oleh beliau. Sebab, tidak selamanya seseorang mampu menulis ulang sejarah hidupnya sendiri. Jadi, nggak ada pintu penghalang bagi para penulis biografi untuk meniti karir di jalur ini. Emang sih, paling enak adalah menulis sendiri tentang diri kita. Kalo belum terkenal, ya, siapa tahu jadi ngetop gara-gara otobiografinya banyak diminati pembaca. Siapa tahu kan?

Nah, sekarang saya akan ngasih beberapa tip yang bisa kamu lakukan untuk menulis sebuah biografi dan otobiografi. Pertama, kenalilah siapa kamu atau seseorang yang akan kamu tulis biografinya. Di sini bisa dieksplorasi tentang kehidupan kamu atau orang yang akan ditulis biografinya. Bentuk fisik, bisa kamu ceritakan juga. Apakah pendek, sedang, atau jangkung. Bentuk hidung, telinga, kaki, tangan, kepala, alis, warna rambut, kumis, jenggot, wajah, mulut, bibir, gigi, dada, warna kulit. Wis, pokoke semua yang ada di tubuhmu or orang yang akan kamu buatkan biogarfinya. Ini penting, untuk memberikan gambaran (kalo bisa seutuhnya) kepada pembaca.

Masalah emosional kamu atau orang yang akan kamu buatkan biografinya, menarik juga untuk diungkap. Kasih sayang, empati, rasa cinta, sentimentil, ceria, penuh pengertian, kepedulian, marah-sedih-gembira. Hubungan dengan teman-teman, keluarga, dan juga orang-orang terdekat lainnya. Ungkap sebanyak-banyaknya. Siapa tahu memang akan memperkaya tulisan biografi atau otobiografi.

Mengenali diri juga bisa dipreteli dari profesional (pekerjaan) kamu atau orang yang akan kamu tulis biografinya. Kehidupan kerja juga sangat membantu untuk menumbuhkan pembaca dalam mengenali kamu atau orang yang kamu buatkan biogarfinya. Jenis pekerjaannya, bagaimana dengan semangat, disiplin, dan dedikasinya, juga bisa diungkap apakah kamu atau orang yang kamu buatkan biografinya itu mencintai pekerjaannya, atau bahkan membanggakan pekerjaannya. Nah, ini kesempatan buat kamu untuk melukiskan, menghadirkannya kembali, dan melestarikannya untuk masa depan. Siapa tahu jadi inspirasi orang lain untuk mengikutinya, atau sekadar menghargai pekerjaan yang kamu geluti dan cintai, serta kamu banggakan. Pokoknya, mengasyikan deh.

Oya, boleh juga tuh masalah filosofis kamu or orang yang kamu buatkan biografinya ditulis juga. Nah, karena biografi atau otobiografi itu ditulis saat yang bersangkutan udah punya umur, maka filosofis yang diangkatkan adalah yang pernah menjadi bagain dari hidupnya selama ini. Singkatnya, apa prinsip-prinsip dalam kehidupannya yang paling berharga dari kamu atau orang yang kamu buatkan biografinya. Misalnya, tentang keyakinan, tentang cita-cita yang bisa menuntun menjalani kehidupan ini, juga tentang pelajaran apa yang bsia ditarik dari kehidupan yang pernah dialami. Hmm.. itu penting lho. Sebab, bisa dijadikan cermin bagi generasi setelahmu, dan juga keluarga dan teman dekat kamu. Memang nggak mudah, karena kita kudu jujur menuliskannya. Itu sebabnya, ini mirip buku harian, cuma udah dikembangkan aja. Jadi, silakan amalkan langkah pertama dalam membuat biografi atau otobiografi ini.

Langkah kedua, tentang asal-usul kamu, atau orang yang kamu tulis biografinya. Apakah ia terlahir dari keluarga yang harmonis atau malah berantakan, keluarga biasa, keluarga bangsawan atau ningrat, termasuk mungkin kelurga sederhana, rakyat jelata. Kalo mau nakal dikit; kamu bisa nulis bahwa mungkin juga terlahir dari keluarga penjahat dan sejenisnya.

Kemudian, apakah kamu atau orang yang kamu buatkan biografinya itu lahir sebagai anak kandung, anak tiri, atau tidak keduanya; misalnya dapet nemu di tempat sampah. Itu semua harus bisa kamu jelaskan kepada pembaca. Sebab, boleh jadi pembaca akan mengambil semacam hikmah dari kisah hidup seperti itu. Menarik bukan? Ceritakan juga bagaimana ortu kamu atau ortu dari orang yang kamu buatkan biografinya. Sejarah keluarga itu perlu. Bahkan mungkin secara medis ada hubungannya nanti dengan penyakit turunan yang diderita. Siapa kakek kita, siapa nenek kita, bagaimana hubungannya dengan keluarga. Wah, pokoknya di sini kamu bisa eksplorasi sekuat-kuatnya dan sebanyak-banyaknya. Bila perlu sampe detil deh.

Langkah ketiga, di mana kamu atau orang yang kamu buatkan biografinya dilahirkan. Ini akan memperkaya sumber data untuk menulis biografi. Tahun berapa, terus bagaimana kondisi tempat atau ada peristiwa apa saat kamu dilahirkan. Kayak Rasullullah kan dilahirkan tahun gajah, dan waktu itu ada serang pasukan Abrahah ke Ka’bah. Ya, model-model begitulah. Kayak di lagu Bang Iwan Fals, Galang Rambu Anarki, “Lahir awal Januari, menjelang pemilu, dan ditandai dengan BBM melambung tinggi”. Wah, untuk itu, kamu bisa menanyakan kepada ortu atau orang-orang terdekat tentang kondisi atau peristiwa saat kamu dilahirkan. Bisa jadi kan suatu saat ada orang menulis biografinya bahwa ia lahir di hutan saat ibunya menghindari kejaran perampok atau sedang mengungsi karena perang. Wah, banyak deh yang bisa ‘diutak-atik’. Pokoknya sedetil-detilnya; hari apa dilahirkan, tanggal berapa, pukul berapa, dibantu dukun beranak, bidan, atau dokter, atau malah nggak dibantu siapa pun. Oke deh, sebanyak mungkin bisa kamu gali dan ceritakan kembali pengalaman yang kamu miliki.

Langkah keempat, ceritakan tentang kehidupan masa kecilmu atau orang yang kamu buatkan biografinya. Wuih, lucu banget tuh. Apakah nakal, pendiam, lincah, ‘manusia dinamo’ alias hiperaktif, baik hati sama teman, lucu, dsb. Bisa juga dituliskan, apakah bahagia atau malah sengsara di masa kanak-kanak. Kapan bisa bicara, kapan bisa jalan, kapan sekolah di taman kanak-kanak, usia berapa masuk SD, bagaimana teman-teman waktu kecil, siapa saja dia, mainan apa yang paling disukai, nama kecilmu siapa, film kartun apa yang paling disukai, pelajaran apa yang menyenangkan, apakah bisa nyanyi, pinter nggak di sekolah, sekolahnya jauh nggak dari rumah, jalan kaki atau naik kendaraan; sepeda, sepeda motor, truk pasir, bis, atau malah dianter ayah pake mobil pribadi, dst. Kalo kamu lupa, bisa tanya sama ortu. Okeh?

Langkah kelima, tentang sekolahmu. Nah, ini penting juga lho. Masa-masa sekolah memang mengasyikan dan menyenangkan. Kamu bisa nulis atau tuliskan pengalaman orang yang kamu buatkan biografinya tentang pengalamannya mulai SD sampe SMP. Pengalaman saat pertama kali pergi ke sekolah, bertemu kawan-kawan, pertama kali berhadapan dengan guru, pertama kali belajar membaca, kisah-kisah unik di sekolah, sering distrap atau justru murid teladan. Suka bolos nggak, pernah kabur dari sekolah nggak, pernah minggat dari rumah nggak, bagaimana sikap ortu kamu saat kamu nakal, dsb. Ceritakan semuanya.

Terus eksplorasi juga sisi unik lainnya. Misalnya, anak-anak kan sering melihat realitas sesuai daya nalarnya. Kadang polos malah. Misalnya, kebingungan saat ibu guru menjelaskan; “Roma itu tidak dibangun dalam satu hari”. Tersu kita kepikiran dengan paman Romi. Berarti kalo dia dibangunkan nggak cukup sehari? Lucu dan polos, tapi itulah anak-anak. Kamu bisa mengeksplorasi banyak kisah waktu di masa itu. Seandanya saja kamu sejak dulu udah bikin buku harian, kayaknya bisa terekam dan amat berharga di masa depan. Bolehlah dari sekarang minta adik kita menuliskan seluruh pengalaman unik dan menariknya dalam sebuah buku harian. Siapa tahu nanti dia akan menuangkan seluruh kenangannya dalam biografi yang ditulisnya. Pelajaran yang amat berharga tentunya.

Keenam, bagaimana kehidupan menuju dewasa. Kamu atau orang yang kamu buatkan biografinya bisa mengungkapkan sedetil-detilnya kehidupannya menuju dewasa. Pengalaman apa saja yang menarik, apakah pernah merokok, kalo anak cewek bagaimana kejadian saat mulai dewasa, apakah suka memakai lipstik punya ibu, mematut-matut diri di depan cermin dengan pakaian dan perlengkapan wanita lainnya yang dimiliki ibu. Terus, buku apa yang menjadi favorit untuk dibaca; novel, cerpen, puisi, agama, komik, atau malah buku berat? Tulislah sedetilnya.

Bolehlah ditulis juga tentang perubahan pola pikir setelah membaca buku-buku tertentu. Bagaimana nuansa keberagamaanmu, peristiwa apa yang menarik saat di sekolah atau di lingkungan sekitar, ada pengaruhnya nggak buat kehidupanmu, bagaimana dengan persahabatan, akademik, dsb. Siapa pula teman sejati kamu, siapa saja yang telah ikut mengantarkanmu menuju dewasa, siapa yang berpengaruh dalam perjalanan hidup dan karirmu. Semua bisa kamu ceritakan, kok. Kalem aja. Tul nggak?

Ketujuh, tentang cinta. Ini juga berarti menulis tentang kehidupan rahasia cinta kamu. Kapan jatuh cinta, dengan siapa, apakah salah-tingkah, atau justru agre, bagaimana dengan prestasi belajarl, bagaimana sikap ortu. Kapan berani menyatakan cinta, kapan khitbah, ceritakan juga tentang pernikahan, kapan, di mana, siapa nama pasangan kamu. Gimana rasanya? Pokoknya, cerita semua tentang cinta.

Kedelapan, ceritakan juga tentang anak-anak. He..he..he… kamu yang masih remaja mah, belum punya ya? Tapi nggak apa-apa, siapa tahu kamu ketiban rejeki diminta menulis biografi orang terkenal dan udah sepuh. Kamu bisa memakain tip ini. Tul nggak? (backsound: asyik ane dibelain, padahal mah lagi demen ngejomblo. Watau!)

Tentang anak-anak bisa diceritakan gimana rasanya menunggu kelahiran anak pertama. Tentang lucu, lincah, dan energiknya anak-anak. Sering atau pernah nganter anak ke dokter, gimana reaksi mereka, apa sakitnya, bagaimana pertumbuhannya. Pokoknya, ceritaain semua hal yang berkaitan dengan anak-anak kamu atau orang yang kamu buatkan biografinya.

Intinya, menulis biografi atau otobiografi, saya katakan sekali lagi, itu adalah keterampilan merangkai semua peristiwa kehidupan kita sedetil-detilnya dalam rangkaian kata dan kalimat yang menarik dan memancing pembaca untuk tetap melanjutkan bacaannya. Iya deh, menulis biografi seperti sedang menulis novel ukuran ‘raksasa’. Dan uniknya, itu adalah kisah sejati kita. Kisah nyata. Oke, pengen lebih lengkap tentang menulis biografi atau otobiografi, silakan pelototin langsung buku-buku tentang biografi atau otobiografi orbek yang udah beredar banyak di pasaran. Tujuannya, tentu sebagai perbandingan aja. Kita cermati, dan kita tulis dan kembangkan kisah kita hasil inspirasi dari buku tersebut dengan gaya bahasa kita sendiri. Yuk, kita coba tip ini. Siapa tahu nanti ujug-ujug ada yang meminta jasamu untuk menuliskan biografinya. Misalnya kepala sekolahmu. Asyik dan menyenangkan lho…
[O. Solihin]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar